Minggu, 12 Januari 2020

Sepenggal Kisah Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara

Barus bukanlah sebuah perkotaan yang moderen , tetapi barus punya berbagai kisah dan sejarah peradaban yang sudah tua. Semua itu terlihat dari berbagai peninggalan sejarah dalam bentuk fisik maupun berbagai kisah dalam tradisi lisan.  

Baru-baru ini nama seorang ulama kelahiran barus juga digunakan untuk menamai jembatan yang dibangun senilai 52 M yakni Jembatan Hamzah Al-Fansuri Barus. Jembatan ini dibangun untuk menghubungkan 4 desa di kecamatan barus dengan penduduk kurang lebih 3 ribu jiwa.

Sebagai daerah yang memiliki banyak kisah, barus juga menjadi wilayah yang memiliki sumbangsih sejarah bagi kehidupan beragama di Indonesia, terkhusus agama islam. Dari catatan sejarah, barus merupakan daerah yang pertama sekali dimasuki agama islam di Nusantara. 

Bukti masuknya islam di nusantara melalui barus tersebut, dibuatlah Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara. Tugu tersebut tepatnya terletak di kelurahan pasar baru gerigis, kecamatan barus  dan telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada tahun 2017 yang lalu.

Pembuatan tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara di inisiasi oleh Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI), dimana ketua umumnya saat itu adalah Albiner Sitompul. Seorang purnawirawan TNI yang pernah menjabat sebagai Komandan Kodim 0212 Sibolga/Tapteng.

Untuk mencapai lokasi tugu, dari sibolga ditempuh perjalanan kira-kira  sejauh 66 Km ke arah singkil dengan memakan waktu sekitar 1,5 Jam. Pengunjung dari luar daerah sibolga dan tapanuli tengah maupun yang baru pertama sekali ingin datang, sebaiknya membawa seseorang yang telah mengetahui jalur yang ditempuh sebagai penunjuk jalan atau menggunakan aplikasi google map. 

Tugu yang saat ini berada hanya beberapa meter dari pinggir laut tersebut dulunya adalah lokasi mesjid raya barus. Namun karena abrasi pantai mesjid tersebut akhirnya dipindahkan tak jauh dari lokasi semula.  Bahkan konon jauh sebelum itu, lokasi yang saat ini sebagai tempat tugu adalah lautan tempat kapal-kapal berlabuh, kapal-kapal tersebutlah yang ditumpangi para saudagar pedagang yang turut menyebarkan agama islam di nusantara.

Semenjak adanya tugu, lokasi tersebut menjadi salah satu objek wisata yang selalu ada pengunjungnya, terutama disaat hari libur, apalagi jika liburan hari besar agama islam. Dampak ekonominya, masyarakat sekitar pun membuka usaha yang menyediakan makanan dan minuman bagi para pengunjung.

Keberadaan tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara menambah rangkaian kunjungan wisata religi di barus. Karena sebelumnya telah di kenal pemakaman papan tinggi, di desa penaggahan, kecamatan barus utara dan pemakaman mahligai. Dua komplek pemakaman ini, menjadi kunjungan para peziarah yang sekaligus melakukan wisata religinya.  

Tugu yang saat ini berbentuk bola dunia dengan disanggah tiga tiang tersebut sebelumnya berbentuk tidak persis sama saat pertama sekali dibuat, bahkan saat Jokowi meresmikannya bentuknya belum seperti sekarang ini. Namun berbentuk seperti periuk tanah terbalik dimana keseluruhan sisinya digambar peta dunia. 

Penggunaan tiga tiang menurut JBMI menyimbolkan falsafah adat batak yakni dalihan na tolu, memiliki arti tungku yang berkaki tiga. Tungku yang berkaki tiga harus memiliki keseimbangan yang setara, karena jika satu kaki saja rusak maka tungku tidak dapat digunakan. Sangat berbeda dengan tungku berkaki empat maupun lima, dimana jika satu kakinya rusak. Masih dapat digunakan dengan penyesuaian fungsinya.

Falsafah tungku berkaki tiga tersebut  dalam adat batak dipakai sebagai tiga kedudukan kekerabatan darah dan hubungan perkawinan yaitu, pertama, somba marhula-hula artinya hormat kepada pihak istri. Kedua, elek marboru artinya mengayomi kelompok saudara perempuan dan ketiga, manat mardongan tubu, artinya bersikap hati-hati kepada teman semarga.

Entah karena apa, bentuk yang semula seperti periuk tanah terbalik tersebut dirubah menjadi bentuk bola dunia seperti sekarang ini. Kabarnya dilokasi tersebut pemerintah daerah tapanuli tengah berencana membangun kawasan terpadu peradapan islam, dilokasi direncanakan akan dibangun mesjid besar sebagai simbol peradaban islam. Namun hingga saat ini, rencana tersebut belum ada tanda-tanda akan di realisasikan. 

Meski demikian kita berharap, rencana pembanguna tersebut dapat segera di laksanakan agar menambah nilai sejarah dan religi objek wisata tersebut.

16 komentar:

  1. Jadi tertarik ingin kesana
    Saya kan penyuka sejarah khusus nya tampak tilas
    Kalau ada buku tentang Barus ingin beli nya nih.

    BalasHapus
  2. Saat tinggal di Sumatera Utara di periode 2002-2007 tapi saya sepertinya belum sempat ke Barus ini. Saya lupa. Yang jelas beberapa kali sama suami roadtrip kemana-mana di Sumatera Utara. Pernah keliling kota-kota di seputar Danau Toba. Juga ke tempat lainnya.Coba saya dia tanya nanti:)
    Saya juga baru tahu sejarah peradaban Islam dari artikel ini.
    Semoga terwujud rencana untuk mendirikan kawasan religi terpadu sehingga pariwisata setempat berkembang dan wisatawan bisa lebih tertarik untuk datang

    BalasHapus
  3. Barus pun konon dinamakan Barus karena kapur nya yang mendunia. Bener kah itu bang Andi?

    BalasHapus
  4. Nol kilometer, Barus di Sumatera Utara. Kalo ga mampir ke blog ini mana tahu saya tempat itu. Ga pernah jalan-jalan

    BalasHapus
  5. Falsafah tungku terbalik menarik sekali. Harusnya tugunya tetap berbentuk tungku terbalik saja ya, karena punya makna yang mendalam sekaligus sebagai pengingat bagi generasi sekarang.

    BalasHapus
  6. Saya baru tau kalau ada kota Barus, yang terletak diwilayah Sumatera Utara.
    Pasti banyak menyimpan sejarah ya, apalagi tadi ngeliat foto yang dibagikan di artikel ini.
    Ada tungku dengan 3 kaki

    BalasHapus
  7. Saya jujur baca dna tahu soal kota Barus ini, Mas Andi.
    Dan kehadiran tugu kilometer membuat orang semakin banyak datang berkunjung dan akhirnya dikenal banyak orang. Dan falsafah soal tungku kaki menarik sekali juga Mas. Jadinya dipertahankan saja, tidak perlu pakai bola dunia.

    Hanya karena letaknya sangat dekat di tepi laut, apa tidak khawatir kena abrasi juga ya, Mas?

    BalasHapus
  8. Nah saya juga lebih setuju kalo tetap mempertahankan simbol periuk tanah dengan tiga kaki itu. Kalau pake bola dunia kok tidak khas lagi dan mengaburkan philosofi budaya Barus.

    BalasHapus
  9. kirain gak benar ih daerah Barus adalah daerah pertma penyebaran agama islam di nusantara ini. masyaAllah....jadi pengen lihat langsung. biasanya cuma lewat doang saya.

    BalasHapus
  10. wuah iya
    masuk juga itu falsafah tungku kaki 3
    kubayangin barusan, kalau hilang 1, langsung roboh
    kalau kaki 4, hilang 1, masih kokoh

    BalasHapus
  11. Wah menarik sekali di sana ada tugu yang menandai ttg peradaban Islam. Semoga kehadiran tugu itu makin memajukan pariwisata di kawasan sana ya. Filosofi kaki tiganya bagus sekali.
    Moga kelak berkesempatan liat tugunya langsung ke sana :D

    BalasHapus
  12. Saya baru tahu ada tugu kilometer nol.Semoga kelak bisa berkesempatan melihat langsung tugu yang unik ini

    BalasHapus
  13. Barus! @_@

    Setelah sekian purnama ingin mengatahui sekadar cerita dari sisi blogger, akhirnya ada.
    Barus memang 0 km-nya peradaban Islam, karena perdagangan dengan Jazirah Arab bahkan sebelum ada agama Islam. Produk utamanya, kapur barus, bahkan tertulis di ALquran. Keren! Suatu saat semoga bisa ke sana. Aamiin.

    BalasHapus
  14. Ternyata ada tugu nol kilometer peradaban islam. Benar-benar bersejarah ya. Dan saya baru tahu, duh selama ini kemana aja...? hehe thank you ulasannya jadi nambah khazanah pengetahuan

    BalasHapus
  15. Ternyata ada yaa yang namanya 0 km peradaban Islam. Selama ini yaa tahunya tugu 0 km yang ada di Aceh sana. Terima kasih sudah menambah wawasan kami yaa kak~

    BalasHapus
  16. Filosofi tungku kebalik unik ya, Mas. Seandainya bola dunianya tetap tungku makin kebaca sejarahnya ya Mba

    BalasHapus